Forum POI/ObjekWisata: JONG DOBO |
| |
|
|
| |
|
| Topik | : JONG DOBO |
| Penulis |
: Crazy_doctor |
(GMT) 18:22:54 Kamis, 29 November 2012
|
| Tanggapan |
: 0 |
Dilihat: 749
|
Kategori : POI/ObjekWisata
|
|
Kampung Dobo yang terletak pada ketinggian sekitar 500 meter diatas permukaan laut, kurang lebih satu jam perjalan dari Kota Maumere kearah Timur (Kabupaten Sikka, Propinsi NTT). Nama lengkap kampung ini adalah Dobo Dora Nata Wulu yang artinya puncak Dobo kampung pertama. Kampung ini adalah bagian dari desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka. Di kampung ini tersimpan sebuah artefak, yang diberi nama sama dengan kampung itu yaitu JONG DOBO. Jong adalah kata bahasa Sikka untuk Perahu atau Kapal. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya â€Perahu di Bukit Doboâ€.
Artefak tersebut berbentuk miniatur perahu itu terbuat dari perunggu. Ukuran miniature adalah panjang 60 cm, tinggi 12 cm, dan lebar bagian tengah 8 cm. detil lainnya adalah awak kapal dalam bentuk patung sebanyak 22 orang.
Kini, perahu ini diawasi oleh seorang Tana Pu’ang (Tuan Tanah, Red), yakni Sergius Moa. Artefak Jong Dobo diakui masyarakat setempat sebagai benda kramat dan sakti. Benda ini diyakini bisa mendatangkan panas, menurunkan hujan, meniup topan dan badai, bahkan bisa mendatangkan malapetaka.
Sergius Moa menceritakan. â€Menurut cerita yang diturunkan dari para leluhur dan menjadi legenda masyarakat, Jong Dobo datang dari India Belakang (Dongson) berlayar dari India untuk mencari tempat yang subur dan menetap. Sebelum melakukan perjalanan, semua mereka yang hendak berlayar tersebut membuat sumpah serapa/janji. Sumpah tersebut adalah tidak boleh melanggar hukum adat, alam dan hukum Tuhan. Apabila melanggar sumpah serapa tersebut, maka mereka akan dikutuk menjadi kecil. Mereka melanggar sehingga dikutuk menjadi kecil,†cerita Sergius.
Sergius Moa mengatakan, perjalanan mereka dimulai dari India, Thailand, Selat Malaka terus ke Indonesia melalui Sumatera, Jawa, Irian (Aru/Dabu), Bima, Labuan Bajo (Pulau Flores). Dari situ mereka berlayar melalui pesisir pantai utara Pulau Flores, di Bajawa (Kabupaten Ngada) mereka mampir di Koli Dobo dan meneruskan hingga perjalanan ke Ende. Dari Ende, mereka meneruskan perjalanan menuju Maumere (Kabupaten Sikka) dan berlabu di Waipare, Kecamatan Kangae.
Di Waipare, lanjutnya, jangkar kapal terputus dan tertinggal, sehingga perjalanan dilanjutkan pada keesokan harinya. Bekas jangkar Jong Dobo masih ada di pesisir Pantai Waipare. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Ihigete Gera, Getung Deu dan diterima oleh seorang bapak (tidak diketahui namanya), penderita penyakit kudis. Usai dari tempat itu, mereka menarik kapal, karena kapal tersebut terkandas di salah satu bukit sehingga bukit tersebut terbagi menjadi dua bagian. Oleh masyarakat setempat, bukit itu dinamakan Wolon Gele dan bekas tarikan perahu tersebut dimanfaatkan masyarakat menjadi jalan kampung. â€Karena mereka tidak diterima dengan baik, maka mereka melanjutkan perjalanan dan menetap di Bukit Dobo. Disini mereka diterima oleh Moat Wogo Pigang dan mereka tinggal hingga saat ini,†lanjut Sergius Moa.
Secara ilmiah, jelas Sergius Moa, artefak Jong Dobo pernah diteliti oleh ahli sejarah, seperti Dr. Th. Hoeven dan Prof. Hugh O’neil. Kedua ilmuwan ini mempunyai pendapat berbeda sesuai hasil penelitiannya. Menurut Ahli Bahasa Yunani dan Latin Dr. Th. Hoeven, artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Dongson, India Belakang atau Tiongkok, sekarang Vietnam pada abad 13 SM.
Sementara Prof. Hugh O’neil, Ahli Bangun Purba dan Modern dari Melbourne University, Australia, berpendapat, jika dilihat dari struktur dan bentuknya artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Sumeria pada abad 3 SM. Artefak ini dibawah dari Laut Tengah India dalam petualangan migrasi Suku India ke Indonesia. Perjalanan ini menghantarkan mereka sampai di Bukit Dobo dan meletakkan benda tersebut.
Lebih lanjut Sergius Moa, menjelaskan, menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pater Eman Embu, SVD., dirinya merupakan pewaris ke tujuh yang menjadi pemegang kunci dan pemilik artefak Jong Dobo. Dia mengatakan, orang pertama yang menerima artefak Jong Dobo adalah Moat Wogo Pigang. Selanjutnya hak kepemilikan secara berurutan diwariskan kepada Moat Bela (Pewaris 2), Moat Sia (Pewaris 3), Moat Nong (Pewaris 4), Moat Potu Mumeng (Pewaris 5), Moat Domi Hende (Pewaris 6), dan Moat Sergius Moa (Tahun 2001 hingga kini). “Menurut penelitian yang dilakukan Pater Eman Embu, SVD., Saya adalah orang ke 7 yang menjadi ahli waris/penerus kepemilikan artefak Jong Dobo,†ungkap Sergius Moa, mengutip hasil penelitian itu.
Selain artefak perahu mini, dikampung ini terdapat juga peralatan megalithis yaitu watu mahe. Watu mahe adalah batu yang berbentuk dolmen dan menhir yang dipasang di tengah kampung. Latar belakang warisan megalithik ini mempunyai kaitan dengan upacara penyembahan leluhur dan penguburan.
Sayang, seandainya lebih terurus, ini bisa menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.
Lokasi berada di : S8.69836 E122.28757
sumber:
Foto pribadi, keterangan dari:
http://www.sikkakab.go.id/obyek-wisata/wisata-budaya.html
http://tabloidlintaspena.blogspot.com/2012/09/jejak-perahu-misterius-jong-dobo-di.html
http://www.inimaumere.com/2008/06/jong-dobo-pesona-dusun-dobo_16.html
|
|
|
|