|
| |
|
| |
Forum POI/ObjekWisata: Lubang Mbah Soero di Sawahlunto |
| |
|
|
| |
|
|
|
| |
|
Boedi,
(GMT) 16:16:39 Minggu, 28 Maret 2010)
| |
Cerita Seram Pak Win
Pak Win, penjaga tempat ini dulunya supir truk pengangkut batubara di PTBA UPO dan terkena pensiun dini. Ia memimpin proyek pembukaan lubang tambang dan akhirnya menjadi 'juru kunci'.
Lebar lubang tambang ini 2 meter dan ketinggiannya 2 meter. Dulu lorong ini untuk mengangkut batubara dari lokasi penambangan di bawah kota Sawahlunto. Lorong ini bahkan bisa tembus hingga Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang kini menjadi Masjid Raya yang berjarak 900 meter, namun baru dipugar 186 meter dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah.
Menurut Pak Win, pemugaran dilakukan 22 hari, membersihkan lumpur serta memompa air yang amat banyak, lalu membuat aliran air dan paving blok untuk dasar lantai. Dinding lubang tambang sebagian besar batubara kualitas super dan sebagian lagi bata. Air masih menetes dari celah dinding batubara dan membasahi kepala.
"Boleh motret ya, Pak," kata saya setengah berharap.
Maklum, saat kedatangan pertama dulu dilarang bawa kamera dan telepon seluler karena takut memicu ledakan gas metana. Peringatan ini juga ditempelkan di dinding.
"Boleh, boleh, ini kan di luar jam kerja," kata PakWin setengah bercanda.
Sebuah kesempatan lagi, kami sigap memoret sambil ngobrol dengan Pak Win. Pak Win berhenti di dekat cekungan dinding terowongan.
"Saat membuka lubang ini dulu semua yang ditemukan harus diserahkan ke museum, di tempat ini kami menemukan tulang paha manusia, dan kemudian diserahkan, malamnya, mulai dari Kepala Museum Rika Cheris, saya dan pekerja lain kedatangan mimpi yang sama, orang rantai yang meminta tulangnya dikuburkan secara Islam di pekuburan orang rantai di atas bukit," kata Pak Win.
Hi...seram juga mendengar ceritanya.
"Mau lanjut ?" tantang Pak Win tersenyum senang karena sudah menakuti kami.
Kami terus lanjut hingga ke ujung lorong. Di sebelah kiri lorong masih ada lorong lain yang belum dipugar karena kekurangan dana.
"Di bawah sana saya ketemu ruangan yang besar, banyak botol anggur buatan Belanda, mungkin dulunya bekas tempat peristirahatan orang Belanda yang menjadi mandor orang rantai," kata Pak Win.
Lorong lubang Mbah Suro ini berakhir di seberang jalan raya. Lepas dari lubang tambang, kami mengunjungi Museum Gudang Ransum. Jejak ‘orang rantai' jelas terbaca di sini. Mulai dari foto-foto, bekas rantai yang merantai kaki dan tangan serta batu nisan tanpa nama dan hanya diberi penomeran.Orang rantai adalah ribuan pekerjanya didatangkan dari Jawa dan daerah lainnya.
Sebagian besar kuli paksa ini berasal dari narapidana sejumlah penjara dengan kaki terantai. Karena itu mereka disebut ‘orang rantai'. Orang rantai ini yang membangun jalur kereta api. Kemudian mereka dijadikan buruh tambang.
Tips Perjalanan
Mark saja GPS anda di Koordinat S0 40.759 E100 46.770 (saat ini POI Lubang Mbah Soero juga belum ada di peta Nav.net update berikut pasti sudah ada) dan ikutin omongan si GPS (anda akan diantar sampai dekat dekat Lubang, Anda bisa parkir mobil di Museum Gudang Ransum dan berjalan kaki sekitar 100 meter.
Anda cukup membayar Rp 8.000 dan sudah mendapatkan pinjaman Safety Shoes dan Helmet Proyek
Dipoto Oleh Boedi P, Nikon D60 Kit
 | |  | |  | | | Ini ruang dukumentasi photo photo, Modelnya Minimalis Modern. | |  | |  |
 | |  | |  | | | Salah satu sudut ruang pamer | |  | |  |
 | |  | |  | | | Pulangnya bisa mengelilingi Danau Singkarak | |  | |  |
|
|
Boedi,
(GMT) 16:22:22 Minggu, 28 Maret 2010)
| |
Sory ya ada beberapa yg kosong karena gagal terkirim isisnya gara gara cuma saya resize 50% dan itu masih terlalu besar rupanya.
 | |  | |  | | | ada poto yg dobel, harusnya ini | |  | |  |
|
Anda diharuskan login terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan. |
|