|
| |
|
| |
Forum POI/ObjekWisata: Tempat wisata unik di Nias |
| |
|
|
| |
|
| Topik | : Tempat wisata unik di Nias |
| Penulis |
: Crazy_doctor |
(GMT) 02:17:50 Selasa, 25 Agustus 2009
|
| Tanggapan |
: 4 |
Dilihat: 1057
|
Kategori : POI/ObjekWisata
|
|
Hingga saat ini saya hanya dapat mendatangi 2 buah tempat wisata unik yang mungkin tidak dapat anda temukan di tempat lain.
- yang pertama adalah lokasi lompat batu (N0 36.870 E97 46.220; ketinggian 273 meter). Lokasi berada sekitar 3 jam dari kota gunung sitoli. Ketika mendarat di airport, anda dapat menemukan banyak orang menawarkan kendaraan sewa yang dapat anda pakai. Angkutan umum dapat ditemukan dari terminal di kota gunung sitoli ataupun dari pinggir jalan menuju selatan.
Dari tanya2 dengan orang-orang setempat, asal muasal lompat batu ini tidak diketahui dengan jelas. ada yang mengatakan, jaman dahulu sering terjadi perang antar kampung, dan biasanya masing-masing kampung mempunyai pagar kira-kira setinggi batu tersebut. sehingga dengan kemampuan melompati batu, maka ketika terjadi perang, akan sangat mudah untuk melompat memasuki kampung lawan. Menurut penduduk sekitar, lompat batu juga dahulu dikaitkan dengan proses pengakuan 'dewasa' seseorang oleh masyarakat. Sehingga sebelum mampu melompati batu, maka seseorang belum dianggap dewasa, dan belum boleh menikah.
Susunan batu mempunyai ketinggian sekitar 2 meter, tetapi setelah gempa besar tahun 2005, sebagian dasar batu 'tertelan' bumi sehingga ketinggiannya berkurang sedikit.
Lompat batu ini terletak disebuah desa, dimana masyarakat masih mempertahankan rumah-rumah tradisionalnya. salah satunya adalah rumah raja. Rumah ini menakjubkan, dibangun tanpa menggunakan paku. Kayu-kayu yang dipakai berukuran besar-besar, yang artinya di Nias pada jaman dahlu terdapat hutan besar. didepan rumah raja, terdapat susunan batu berukuran besar-besar tempat duduk raja dan keluarganya pada jaman dahulu. Karena desa ini terletak diatas bukit, dapat dibayangkan susahnya membawa batu ini dari bawah.
Ketika memasuki rumah raja, anda dapat melihat struktur tiang-tiang bangunan yang rumit. lantai dasar tidak dapat dipakai untuk beraktivitas, hanya sebagai pintu/jalan masuk menuju lantai dua. di lantai dua, terdapat aula untuk tempat pertemuan, dengan panggung kecil dimana sang raja duduk. Tiang penyangga dan dinding berukir, uniknya semua ukiran dibuat dari kayu utuh, termasuk tiangnya. dapat dibayangkan berapa banyak bagian kayu yang dibuang hanya untuk mendapatkan tiang yang indah. Diatas lantai dua hanya terdapat atap yang menjulang tinggi lebih dari 10 meter, anda dapat melihat rumitnya struktur atap. Ketika gempa besar tahun 2005, ada beberapa kerusakan pada rumah ini, dan pemugaran sudah dilakukan. sayangnya pada saat pemugaran digunakan juga pasak dari mur/baut logam, sehingga 'rumah tanpa paku' sekarang sudah tidak benar lagi.
Menurut cerita masyarakat, hanya ada 1 orang yang mengetahui cara pembangunan rumah ini. Setelah pembangunan selesai, orang ini dibunuh untuk mencegah pembangunan rumah yang sama ditempat lain.
Keturunan raja masih tinggal dibagian belakang rumah ini, sayang kita tidak dapat berkunjung.
 | |  | |  | | | pelompat batu sedang beraksi | |  | |  |
 | |  | |  | | | didepan batu loncat dengan latar belakang rumah raja | |  | |  |
 | |  | |  | | | duduk didepan rumah raja, diatas batu besar. | |  | |  |
|
|
|
|
| |
|
Crazy_doctor,
(GMT) 02:27:35 Selasa, 25 Agustus 2009)
| |
di tempat kedua (N1 25.762 E97 08.580), kita dapat menemukan karang-karang besar yang keluar dari air ketika terjadi gempa. Terumbu karang ini berukuran besar-besar, dan pasti memerlukan waktu ratusan tahun untuk mencapai ukuran tersebut. Tentunya karang-karang itu sekarang sudah mati karena tidak dapat hidup diatas air.
Gempa merubah kondisi alam setempat, sehingga membuat semacam kolam air laut yang cukup besar, terlindung dari ombak laut. kata masyarakat setempat, berenang di kolam laut tersebut dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Entah benar tidak.
tempat ini berjarak sekitar 335 meter dari daratan (sebelum gempa). jadi sekarang ada daratan baru yang cukup luas dan tidak bertuan. Masyarakat nelayan sudah membuat rumah-rumah, dan tempat ini ramai dikunjungi ketika hari minggu/libur. Saran saya, ketika berenang/jalan, hati-hati dengan ular, karena biasanya ular hidup diantara karang-karang.
 | |  | |  | | | di pinggir pantai baru, terlihat banyak karang menyembul keluar laut. | |  | |  |
|
|
Buyung Akram,
(GMT) 02:39:26 Selasa, 25 Agustus 2009)
| |
Wah,. ntar gua pindahin kebagian artikel aja deh. Btw, menurut bos sendiri bisa ga melompati batu tersebut Btw kalau dari jakarta ke tempat tersebt gimana caranya ya ?
|
|
Crazy_doctor,
(GMT) 04:46:08 Selasa, 25 Agustus 2009)
| |
ada batu kecil, yang tidak terlihat difoto, digunakan untuk pijakan ketika melompat. belum pernah nyoba, tp dengan bentuk badan yg sekarang, rasanya tidak akan bisa.
naik pesawat dari jakarta ke medan, medan ke gunung sitoli. tiket medan gunung sitoli harganya hampir sama dengan medan jakarta. pilihan lain, dari medan ke sibolda lewat darat, terus nyebrang naik ferry ke gunung sitoli.
oh ya lupa, kalo mau liat orang loncat batu, harus bayar. hehehe........
|
|
LatLon,
(GMT) 04:50:25 Selasa, 25 Agustus 2009)
| |
Kalau ke Pulau Nias melalui laut dapat diakses melalui Pelabuhan Sibolga (Tapanuli Tengah) dengan kapal fery. Beberapa tahun lalu kapal Pelni singgah di sini dari Tanjung Priok, Jakarta dengan rute Tanjung Priok-Telukbayur-Gunung Sitoli-Sibolga.
Jika menggunakan transportasi udara dapat diakses melalui Polonia Medan. Kalau tidak salah MNA & RAL melayani rute ini.
Demikian Oom Silhouette
|
Anda diharuskan login terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan. |
|