Login

 

 
 

Forum Peta: Tampilan Tipe dan Tingkatan Rute Jalan

 
 
 
TopikTampilan Tipe dan Tingkatan Rute Jalan
Penulis  Teddy

(GMT) 03:12:23 Selasa, 26 Agustus 2014 

Tanggapan : 0

Dilihat: 1299

Kategori : Peta 


Beberapa thread di perpustakaan navigasi.net sudah membahas soal tampilan tipe dan rute jalan, terutama seperti pada thread Penentuan Kelas Jalan (http://www.navigasi.net/gofrm.php?c=FP&t=1880&page=1). Namun demikian, mengulang dan mengingat kembali apa yang dibahas berdasarkan hasil bongkar perpustakaan dan informasi lainnya, masih ada yang ingin saya bahas dan sampaikan mengenai tampilan tipe dan membuat rute jalan.

belajar dari obrolan para mapdev dan kontributor, peta navnet punya mapskin tersendiri yang berbeda dengan skin bawaan GPSMapEdit dengan menampilkan warna dan kode custom pada polyline-polyline jalan untuk format *.mp yang nantinya dicompile oleh cGPSmapper (begitu bukan?). Informasi [copy-paste] klasifikasi tampilan tipe jalan navnet ini adalah sebagai berikut:

(0x1) Toll Road = Jalan Tol (110 km/jam)
(0x2) Principal Highway Road = Jalan Negara (90/80 km/jam)
(0x3) Other Highway Road = Jalan Provinsi (80/60 km/jam)
(0x4) Arterial Road = Jalan Arteri (80/60 km/jam)
(0x5) Collector Road = Jalan Penghubung antar Perumahan (40 km/jam)
(0x6) Residential Street = Jalan Perumahan (20 km/jam)
(0x7) Private Driveway (Alleyway) = Bukan jalan umum atau Gang Kecil (5 km/jam)
(0x8) Ramp (Low Speed) = penghubung tol (80 km/jam)
(0x9) Ramp (High Speed) = penghubung tol (90 km/jam)
(0xa) Unpaved Road = Jalanan tak beraspal (5 km/jam)
(0xc) Roundabout = Bundaran (60/40 km/jam - mengikuti class route tertinggi pada polyline yang terkoneksi)
(0xd) Motorcycle/Pedestrian (custom) = khusus roda 2 dan pejalan kaki (5 km/jam)
(0xe) Footprint (custom) = pejalan kaki/jogging, sepeda/MTB
(0x16) Off Road / Trail pejalan kaki/jogging, sepeda/MTB, Motor Trail, 4x4

ada yang berpendapat kalo tampilan tipe jalan 'TIDAK' berpengaruh pada pembuatan autorouting (pemanduan otomatis) karena sejatinya tarikan garis polyline road (setidaknya) hanya memberikan informasi jalan yang akan ditempuh oleh pengguna gps navigasi, sedangkan fitur autorouting bergantung pada masukan speed limit dan kelas rute. Dari sini, [menurut saya] penyebutan tipe jalan --yang selalu disebutkan dalam K&S-- sudah berbeda dengan istilah kelas rute (route class) yang tentunya memiliki fungsi masing-masing.

adapun pembagian tingkatan rute yang digunakan sebagai info atribute dalam polyline jalan adalah sebagai berikut:
(0) Residential Street/Alley/Unpaved road/Trail
(1) Roundabout/Collector
(2) Arterial street/Other HW
(3) Principal HW
(4) Major HW/Ramp

idealnya, pembagian jalan pada area yang kompleks (mungkin di luar negeri) menurut manual cGPSmapper adalah sama dengan tingkatan rute-nya, misalnya: tipe Principal Highway Road diberikan tingkat (3), Arteri diberikan angka (2) dan Collector diberikan angka (1) sehingga pembagian sebaran jalan sesuai dengan perkiraan persentase dalam manualnya, yaitu sebaran jalan tingkat (0) residential street lebih banyak dibanding tingkat selanjutnya. Hasil yang diharapkan tentunya pada kalkulasi 'fastest route' akan mengarahkan tujuan pada pilihan tingkat rute yang paling tinggi ditambah masukan batas kecepatan yang tertinggi.

sepertinya bukan tanpa alasan kenapa cGPSmapper cenderung pada pembentukkan desain jalan yang ideal. Penggambaran tipe jalan ini tentunya menyangkut --setidaknya juga-- teori-teori transportasi jalan yang mempengaruhi lalu lintas manusia dari tempat asal menuju tempat tujuan. Pada negara-negara maju yang memiliki rancangan konstruksi jalan sesuai sistem hirarki, yaitu pada penyusunan Tol, Highway, Arteri, Kolektor dan Perumahan, pemilihan autorouting akan berdasarkan pemilihan yang ideal, cepat dan nyaman. Jika kita bermula dari perumahan kota besar A menuju perumahan kota besar B, maka autorouting akan mengarahkan pada Highway atau Tol yang menghubungkan kedua kota besar tersebut, meski mungkin saja ada jalan alternatif yang menghubungkan kedua kota tersebut namun tipe + kelas rutenya tidak sesuai dengan kondisi 'rute tercepat'. Jauhnya lagi, hal ini terkait perencanaan wilayah dan kota pada bahasan transportasi dan lalu lintas.

nah, kembali pada rancangan tipe jalan di Indonesia, nampaknya hal itu akan berbeda sama sekali pada tatanan sebuah transportasi yang ideal menurut teori-teori negara maju tersebut. Namun hal ini bukanlah halangan untuk menciptakan sebuah autorouting yang efektif. Sebagai pengguna (user) yang membuat peta sendiri, tentunya klasifikasi jalan ini bisa 'diubah' sesuai dengan kesamaan yang ada di lapangan. Terkadang tidak selamanya pengelompokan resmi status jalan kemenPU harus sama dengan pemilihan tingkat rute. Selama yang sama amati, tidak ada klasifikasi status jalan Highway atau Expressway yang memiliki lebih dari 4 lajur di Indonesia, kecuali penggunaan di dalam jalan tol sampai 4 lajur, seperti pada tol jagorawi - cawang yang memiliki 4 lajur dan ditambah 3 lajur pada jalur sebaliknya (S6,256912° E106,872630°). Sehingga bentukan autorouting di Indonesia bisa menggunakan 'kebiasaan' orang banyak untuk berlalu lintas karena bisa terdapat suatu kasus dimana jalan collector digunakan sebagai jalur utama karena adanya rekayasa lalu lintas di dalam kota.

apa yang bisa disampaikan menurut pendapat saya dan seperti yang sudah ada pada peta navnet, penggambaran jalan nasional menggunakan tipe Principal Highway dengan tingkat rute tertinggi dan kecepatan yang tinggi sesuai kondisi di lapangan. Misal jalur pantura atau jalur anyer - panarukan di pulau jawa. Tentunya gambar Principal Highway ini dibekali kode penomoran rute yang berlaku untuk dicompile oleh cGPSmapper. Jalan provinsi bisa menggunakan Other Highway Road dan Jalan kabupaten adalah collector road. Collector road ditampilkan sebagai informasi penghubung antar perumahan atau jalan utama menuju pusat desa, seperti yang sudah digunakan di area Kabupaten Cianjur. Kemudian untuk informasi jalan alternatif antar dan batas kabupaten, kecenderungannya bisa menggunakan gambar tipe arterial road atau collector road tergantung pada informasi yang ingin ditampilkan. Selain itu, residential street bisa menggambarkan jalan kampung bahkan antar perbatasan kabupaten yang jarang dilalui.

Adapun soal routing, kembali pada informasi masyarakat lokal bagaimana jalan tersebut dipakai oleh kebanyakan orang. Pendapat saya adalah bahwa tidak selamanya gambar Jalan Nasional diinput sebagai tingkat rute (3) Principal HW karena bisa saja adanya rekayasa lalu lintas menjadikannya turun tingkat rute dan dialihkan pada Jalan Kabupaten/Kota dengan tingkat rute (3) Principal HW. Hal ini nampaknya 'hanya' berlaku di negara Indonesia saja [mungkin, hehehe]. Selebihnya tergantung pada informasi masing-masing wilayah.

Kalo dikelompokkan, gambar tipe jalan adalah sebagai berikut:

Jalan Nasional = Principal Highway
Jalan Provinsi = Other Highway Road
Jalan Kabupaten = Collector Road
Jalan Desa/Perumahan = Residential Street

* Bundaran dan Gang kecil menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, yaitu Private Driveway, Trail, Motorcycle/Pedestrian Only atau Footprint

Informasi mengenai Jalan Nasional bisa ditemukan pada situs Kementerian. Saat ini yang saya amati ada di:

Peta Jaringan Jalan Nasional - Kementerian PU
(http://www.bukapeta.com/binamarga/id/peta/status_jalan/2012)
*) lengkap dengan posisi simpul pangkal dan ujung

SIM Perlengkapan Jalan - Kementerian Perhubungan
(http://simlalin-hubdat.web.id/markajalan/)

Sedangkan informasi jalan provinsi dan kabupaten berasal dari masing-masing dinas PU Bina Marga.

Demikian pendapat saya seputaran tipe dan tingkat rute jalan. Berharap bisa menambah fitur peta navnet tidak hanya memberikan routing yang efektif, namun informasi status jalan nasional + nomor rute, jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota bisa ditampilkan dengan baik dan benar. Mudah-mudahan dapat menyegarkan kembali dan menambah informasi mengenai hal ini dan barangkali ada yang bisa menambahkan dari apa yang saya sampaikan.



Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten (S7.27595 E107.12185) zoom 1,5 km


Jalan Alternatif Antar Kabupaten (S7.06969 E107.17657) zoom 1,5 km

 

 Halaman : 1  

 
Tanggapan

Anda diharuskan login terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan.
navigasi.net 2003 - 2026