Login

 

 
 

Forum Peta: Keunggulan Peta Indonesia versi Navigasi.net

 
 
 
TopikKeunggulan Peta Indonesia versi Navigasi.net
Penulis  Teddy

(GMT) 07:30:46 Jumat, 13 Juni 2014 

Tanggapan : 14

Dilihat: 2908

Kategori : Peta 


"...apakah peta navigasi.net bisa tahan lama?.."

Begitulah kira-kira sebuah tagline --kalopun mau disebut kek trailer film2-- yang diambil dari tulisan artikel sebelumnya dan bisa saja menjadi suatu tantangan (besar) kepada rekan-rekan navigasi.net, baik sebagai mapdev maupun kontributor, hehehe

Mencoba menanggapi berbagai komentar tentang 'perbandingan' peta-peta indonesia yang beredar, baik yang berbayar atau gratisan, sebenarnya usaha 'perbandingan' ini tidak layak untuk disandingkan terutama karena perbedaan tujuan dibuatnya Peta Indonesia yang dimaksud. Dengan tidak bermaksud membandingkan, namun sekiranya bisa berbagi informasi mengenai peta berbayar dan peta gratis navigasi.net.

Peta-peta berbayar yang berasal dari pembuat aplikasi GPS Navigasi --yang pernah saya pakai seperti Garmin, Nokia Maps, iGO atau Sygic-- memiliki tujuan dalam penjualan produk mereka, yaitu tiada lain adalah profit. Tentunya keuntungan yang ingin mereka capai --minimal-- adalah kembalinya modal pembuatan peta itu sendiri yang dipakai dalam GPS Navigasi karena harga membuat peta itu sendiri tidaklah murah. Meski kita dahulu (mungkin) ada yang pernah membeli buku atlas bumi yang harganya tidak mencapai ratusan atau jutaan rupiah.

Informasi pembuatan peta yang pernah saya dapatkan bisa mencapai miliaran rupiah dalam satu kali proyek. Tergantung cara pengambilan sumber data, mau pake foto udara atau citra satelit tidaklah sama harganya. Belum lagi ongkos terbang kalo pake pesawat dan tentunya uang makan untuk pilot dan kru-nya

Singkat cerita, lembaran cetakan (hardcopy) peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) yang dihasilkan oleh Bakosurtanal (sekarang Badan Informasi Geospasial) dapat dibeli oleh masyarakat dengan harga sekitar puluhan ribu rupiah untuk satu nomor lembar peta dan untuk versi digital (softcopy) bisa mencapai ratusan ribu.

Nah, tentunya perusahaan-perusahaan aplikasi GPS Navigasi memerlukan data untuk pembuatan peta dalam produk mereka. Sehingga mereka akan mengambil sumber data digital terbesar dan resmi mengenai perpetaan di wilayah Indonesia, yaitu lewat Badan Informasi Geospasial. Sudah tentu mereka akan menggelontorkan dana yang besar untuk pembelian data vektor RBI untuk diolah menjadi informasi navigasi yang kemudian akan dijual kembali kepada pengguna yang membeli produk GPS Navigasi.

Dana yang besar dalam pembelian data vektor belumlah termasuk biaya survei routing dan POI. Sejauh yang saya diketahui, produk peta vektor RBI dari Badan Informasi Geospasial tidak dapat digunakan sebagai 'routable map' atau sebut saja 'peta-yang-dapat-memandu' . Sehingga untuk dibuat menjadi routable map, si pembuat peta mesti survei kondisi jalur lalu lintas dan arah pergerakan dan hal itu sepertinya memerlukan biaya yang besar juga. Belum lagi biaya update peta yang (harusnya) berasal dari survei lapangan yang juga tidak sedikit ongkosnya. Sehingga peta yang dihasilkan diberi label US$ atau Rp. Inilah yang saya maksud dengan istilah 'pemodal-yang-besar'.

Peta Indonesia yang mahal tersebut, yang mau berasal dari perusahaan apapun seperti teleatlas yang menjadi tomtom atau tompret (kata om Latlon ) atau Navteq, nampaknya semua memiliki sumber yang sama, yaitu berasal dari RBI Badan Informasi Geospasial. Hal ini jugalah kenapa Peta Indonesia yang dihasilkan menggambarkan lebih banyak ruas jalan-jalan sampai area per kampung sebagaimana yang digambarkan pada peta RBI. Bagi yang penasaran, silakan saja jika ada rekan yang memiliki peta vektor RBI bisa di-overlay-kan dengan gambar peta dari perusahaan tersebut. Bisa dikatakan hampir persis sama dan sebagian yang berbeda adalah perbaikan atau update polyline ruas jalan yang dilakukan oleh mereka. Dan kalo yang saya perhatikan, update dari perusahaan penyedia peta tersebut mengutamakan kota-kota besar dan ruas jalan yang menjadi lintasan yang utama, sehingga sejak CN Indonesia 2012.XX sampai 2014.XX, kota kecil kek Cianjur apalagi wilayah selatan memiliki gambar peta yang itu-itu ajah, begitu juga rute yang dihasilkan. Gak ada perubahan yang signifikan --tidak tahu kalo rekan-rekan memiliki persepsi yang berbeda-- padahal pembangunan jalan dan peralihan jalur selalu dinamis. Istilah ekstrimnya adalah meski lengkap tergambarkan ruas jalan, namun fungsi routing-nya bisa sesat dan menyesatkan

Berbeda dengan komunitas navigasi.net, tujuan dibuatnya Peta Indonesia adalah berbagi hasil dari individu-individu yang memiliki kepedulian untuk saling menyumbangkan informasi ruas dan rute jalan serta POI disekitarnya. Sumbangan ini diberikan kepada map developer untuk digabungkan dengan peta sebelumnya dalam format yang seragam. Sehingga memudahkan kepada pengguna untuk kembali menambahkan informasi ruas dan rute jalan serta POI ke dalam Peta Indonesia yang di-update 2 bulan sekali.

Meski Peta Indonesia versi Navigasi.net tidak memiliki sumber data terbesar seperti RBI, hal itu tidak menjadi halangan untuk menghasilkan routable map yang efektif. Perusahaan besar bisa saja langsung mengambil sumber ruas jalan yang dihasilkan oleh RBI, namun belum tentu informasi yang ditampilkan memberikan routing yang benar sampai pada kota-kota kecil atau area yang jarang dilalui oleh orang-orang. Disinilah keunggulan Peta Indonesia versi navigasi.net yang mengandalkan kontributor-kontributor sebagai ujung tombak yang memberikan informasi secara akurat dalam pembuatan dan pemutakhiran peta berdasarkan hasil tracklog perjalanan atau pengamatan citra satelit. Tracklog dan hasil pengamatan tersebut adalah cuma-cuma alias sumbangan gratis meski kontributor tersebut melakukan perjalanan dengan biaya sendiri bahkan menanggung biaya akses internet untuk meng-upload informasi. Dengan begitu, peta navigasi.net yang dikembangkan merupakan hasil karya sendiri tanpa mencontek peta yang ada. Meski sumber yang digunakan adalah citra permukaan bumi yang sama, namun perbedaan tarikan garis dan informasi routing merupakan originalitas tersendiri bagi navigasi.net. Hal inilah yang menurut saya memberikan pesan kepada pengguna Peta Indonesia versi navigasi.net, yaitu:

"segini juga udah mending gratisan, kalo ada yang masih kurang, silakan kasih tau mapdev yang bersangkutan."

Soal belum tergambarkannya ruas jalan pinggiran atau jalan di kampung-kampung, saya pikir hal itu hanya masalah waktu saja. Sekiranya ada kontributor yang memiliki peta vektor RBI, bisa disumbangkan untuk melengkapi informasi ruas dan rute jalan. Atau bisa juga kontributor yang meluangkan waktu nambah informasi polyline pake google earth dengan ekstensi *.kml yang nanti bisa dikonversikan ke dalam format *.gpx.

Kurangnya POI tidak juga mengurangi keunggulan Peta Navigasi.net dengan peta berbayar. Justru hal ini yang paling unik, peta berbayar tidak akan (mungkin) bisa menampilkan POI unik, semisal: RUMAH 137 pada POI Bangunan (Building), yang ternyata adalah rumah sendiri. Peta Berbayar gak (mungkin) bisa memunculkan POI unik tersebut karena perbedaan sistem pemutakhiran peta. Nah meminjam kalimat salah seorang tersangka KPK: "kalo ada satu POI Rumah Sendiri pada Peta Berbayar, gantung saya di monas-monasan"

Pun demikian pada perbedaan kosmetik, peta berbayar didukung oleh aplikasi GPS yang bisa menampilkan Junction View. Meski begitu, kehadiran aplikasi GPS yang gratis seperti 7ways nampaknya bisa memberikan kosmetik yang berbeda dengan aplikasi GPS berbayar.

Semua tantangan tersebut nampaknya akan selalu mewarnai Peta Indonesia versi Navigasi.net. Sehingga kita semua bisa menjawab tantangan (besar) pada tagline di atas, yaitu: "...apakah peta navigasi.net bisa tahan lama?.."

 

 Halaman : 1  

 
Tanggapan

AkRoGun, (GMT) 07:48:44 Jumat, 13 Juni 2014)

 

Pertanyaan balik: Apakah pembuat peta berbayar bisa bertahan lama kalau data2 yang ada pada peta mereka berasal dari hasil "curian" peta gratis ??? hehehe

Teddy, (GMT) 19:09:58 Jumat, 13 Juni 2014)

 

@AkRoGun
nah soal yang itu... (garuk2 kepala gak gatel), wah saya ga tau.. hehehe
Tapi yang saya tau, toko penjual produk merek Garmin 'pasti-akan-selalu-dan-gak-akan-pernah-lupa' memberikan Peta Indonesia versi Navigasi.net selain dari peta bawaan pabrikan. Jadi produk peta berbayar hanya akan bertahan lama selama produk mereka terjual pada promo free map :P

LatLon, (GMT) 16:07:03 Sabtu, 14 Juni 2014)

 

"...apakah peta navigasi.net bisa tahan lama?.."

Tahan lama maksudnya apa, nih? Gampang koq! Tinggal kasih bahan pengawet...

Jika yang dimaksud adalah apakah navigasi.net bisa tetap eksis? Wow! Silahkan diaduk-aduk sejarah navigasi.net dari awal terbentuk hingga detik ini. Suatu masa yang tidak sebentar untuk tetap eksis dengan berbagai halang-rintangnya!

Terus, mau membandingkan peta Navnet dengan peta produk lainnya? Silahkan saja dan tolong buatkan scorenya dan lampirkan di sini agar menjadi saran yang membangun dan bukan asal mengkritik (mirip para pengamat sepak bola di televisi yang menganggap para pemain adalah bodoh dan merekalah yang pintar dan tahu strateginya)

Lalu kapan para member yang berjumlah puluhan ribu ini menjadi pemain bukan hanya pengamat?! Jika seorang member menyumbang 1 POI saja, dapat dibayangkan penambahan POI yang akan terjadi setiap edisi peta Navnet dirilis...

Beruntung ini tidak terjadi, sebab jika terjadi peta Navnet bisa seperti Wikimapia isinya....

Seperti yang TS jabarkan betapa sulitnya untuk membuat peta apalagi yang berskala nasional seluas NKRI. Memangnya membuat peta navigasi.net ini semuanya gratis sehingga dengan mudahnya dibagikan secara gratis pula? Coba hitung berapa biaya yang telah dikeluarkan para kontributor di Navnet hingga detik ini untuk menyetorkan beberapa POI atau track-log? Mungkin lebih besar dari biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pembuat peta yang kemudian menjualnya kepada para pengguna.

Coba kita melihat peta navigasi.net ini dari sudut pandang lain bukan melulu materi.

Latar belakang dibentuknya navigasi ini seperti yang tertulis di halaman muka:

Situs ini dibangun dengan tujuan memberi kemudahan untuk melakukan perjalanan di wilayah Indonesia dengan menggunakan perangkat GPS. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan.
Keterbatasan dan/atau ketidak-tersediaan peta GPS wilayah Indonesia bukanlah suatu penghalang dalam menggunakan perangkat GPS. Dengan kerjasama dan saling tukar-menukar informasi akan letak (koordinat) suatu lokasi, diharapkan akan membantu pengguna situs ini untuk mencapainya.


Jelas! yang bisa ditarik kesimpulannya adalah semangat berbagi!

Mari berbagi informasi sesama pengguna sehingga tanpa disadari, kita memiliki peta milik bersama yang dibuat secara gotong-royong sebagai ciri khas bangsa ini dan kita semua bangga akan hasil kerja bersama ini. Atau memang semangat gotong-royong ini sudah pudar kalau tidak mau disebut punah?

Jika kondisi ini bisa dicapai, lalu masih perlukah kita mengimport peta buatan asing yang intinya mereka sama dengan kita tanpa sumber daya manusia sebagai surveyornya? Lalu dari mana mereka mendapatkan info yang kemudian mereka petakan? (Ini mungkin menjawab pertanyaan Oom AkRoGun di atas)

Atau memang sudah menjadi budaya kita yang selalu mendewakan produk asing dari pada menggunakan produk buatan bangsa sendiri? Kita memang tidak bisa membuat hardware/software GPS, paling tidak, kita mampu membuat petanya. Atau kita mungkin lebih terhormat dan bangga jika bisa membeli peta produk asing dari pada yang gratisan? Bahkan saat memamerkan GPS yang dibeli mahal kepada orang lain, kita akan bangganya berkata: "GPS gue donk mutakhir dengan peta sampah/basi" Disebut sampah karena sesat lagi menyesatkan. Dibilang basi, karena tahun rilis jadul!

Emangnya kalau berbagi musti ditukarkan dengan Rupiah/Dollar?

Entahlah, silahkan bertanya pada hati nurani masing-masing. Kapan mulai terjun berpartisipasi aktif atau hanya duduk selamanya sebagai pengamat seperti pengamat persepak-bolaan [gile! 250 juta lebih rakyat negeri ini, tidak ada 11 orang saja yang bisa main bola ditingkat dunia! (lagi musim piala dunia, neh!]

Jadi, bagi yang sudah terlanjur membeli peta produk asing atau mungkin sudah menjadi antek-anteknya, mari kembali ke pangkuan ibu pertiwi, membangun peta NKRI secara utuh. Sudah secara ekonomi kita dijajah, mosok bikin peta masih mau dijajah juga?! Navigasi.net adalah wadah yang cocok dan nomer satu [bukan maksud kampanye capres, yha... ] yang bisa mewujudkannya dengan anggota yang demikian banyaknya.

Bagi saya, kapan peta Navnet berakhir adalah saat di mana Bos Buyung sudah enggan mengkompail peta lagi (maklum, Beliau kan One Man Show)

M E R D E K A ! ! !

Boedi, (GMT) 16:59:58 Sabtu, 14 Juni 2014)

 

Dari Jaman peta navnet masih bernama Petaku..... Sampai saat ini saya masih menggunakan peta navigasi.net
Saat itu peta masih bisa dimasukan ke dalam gps garemin Streetpilot III sampai gak bisa dimasukan lagi gara gara ukuran filenya dari update ke update makin membengkak...
Apa itu Petaku....?
Mungkin yg dibawah saya akan memperjelas
Salam Navigasi

Teddy, (GMT) 11:53:43 Minggu, 15 Juni 2014)

 

@om Latlon
setidaknya tulisan ini bisa memberi wawasan kepada pembaca navigasi.net mengenai perpetaan, terutama menyoal kelengkapan ruas-ruas jalan dan POI yang sudah dipetakan selalu 'dibanding-bandingkan'. toh kalo pembaca sudah tau, berarti hal ini bisa menambah semangat berbagi dalam pengembangan peta navnet.

Tentang sejarah, kebetulan saya baru daftar setahun yang lalu jadi gak begitu tau persis perintisan Navigasi.net. Tapi kalo baca-baca dari artikel forum, nampaknya perubahan-perubahan besar selalu terjadi.

Juga kalo gak salah baca, ada info kalo navigasi.net pernah diliput oleh salah satu stasiun tv.

ke depan, mudah-mudahan navigasi.net bisa tetap eksis mengudara dengan selalu mengedukasi dan mencerdaskan bangsa meskipun lewat peta, hehehe

Boedi, (GMT) 14:17:04 Minggu, 15 Juni 2014)

 

Diliput oleh salah satu stasiun TV?.....
Paling tidak sebagian kecil dibuat oleh karyawan salah satu stasiun TV....

surya, (GMT) 02:10:02 Senin, 16 Juni 2014)

 

Sejak awal menggunakan GPS dan bergabung di Navigasi.net depan tahun yang lalu, saya selalu menggunakan peta Navnet.
Saya bangga menggunakan Peta Navnet yang merupakan Peta Asli Buatan Indonesia, yang dihimpun dari sumber-sumber terpercaya yaitu orang Indonesia asli(Kontributor), diolah oleh tangan-tangan orang Indonesia (Mapdeveloper) dan dicompile juga oleh orang Indonesia (Bos Buyung) sehingga menghasilkan Peta Indonesia (ASLI).

Saya

anggararb, (GMT) 01:09:07 Selasa, 17 Juni 2014)

 

peta dari navigasi.net bener2 sesuai dengan kebiasaan jalur yang saya tempuh, saya sering membandingkan dan hasilnya luar biasa, route yang diberikan seperti mengerti sekali kebutuhan saya. saya sangat mendukung sekali agar navigasi.net terus maju, maaf jika saya jarang berkontribusi, karena saya belum sepenuhnya memahami cara2 berkontrubusi aktifnya. sebenernya saya banyak sekali POI yang saya ingin usulkan

Cak Arief, (GMT) 15:35:35 Kamis, 19 Juni 2014)

 

@anggararb, saya lihat ID anda ada di rembang, kalau banyak POI dan belum tahu cara mengusulkannya, silahkan merapat ke mapdev terdekat, mungkin ke Akrogun di semarang. Semua mapdev akan dengan senang hati menerima kontibusi anda.

Disan, (GMT) 08:31:15 Jumat, 20 Juni 2014)

 

Dari dulu sampai sekarang saya juga pakai peta navnet, petanya selalu update setiap 2 bulan sekali, luar biasa ...
Terima kasih Mapdev dan Kontributor Navnet , serta Om Buyung yang tidak pernah lelah mengcompile peta serta membagi kepada semua masyarakat indonesia pengguna GPS, Bravo Navnet

AkRoGun, (GMT) 08:52:35 Jumat, 20 Juni 2014)

 

@anggararb:
Silahkan liat2 dulu di thread

AkRoGun, (GMT) 08:53:05 Jumat, 20 Juni 2014)

 

@anggararb:
Silahkan liat2 dulu di thread cara enak ngambil POI ? ini, siapa tau udah bisa menjawab pertanyaan mas.

PerkasaXX, (GMT) 01:59:04 Selasa, 24 Juni 2014)

 

Andaikan klo dibuatkan versi peta Sygic he...he...he....

LatLon, (GMT) 04:44:50 Selasa, 24 Juni 2014)

 

Tidak banyak yang tahu posisi tawar peta Navnet. Mungkin memang tidak pernah dibuka Bos Buyung. Seandainya Bos Buyung menerima tawaran milyaran rupiah yang ditawarkan beberapa provider peta kelas dunia... Sekarang Navnet mungkin hanya tinggal namanya saja yang "gratis". Dan bangsa ini tetap menjadi bahan jajahan.

Beberapa tahun lalu Navnet pernah dibuat gempar oleh isu akan kemunculan software yang bernama iGo. Para penggemar iGo pun heboh bertanya kapan versi ini dirilis. Rencana tinggal rencana, 2 tahun berlalu baru bisa terealisir. Sepanjang 2 tahun ini para MapDev menjadi terkotak-kotak jika tidak mau dibilang terpecah-belah. Kini, apa kabar iGo? Peta yang dirilis lewat jaringan mereka yang katanya gratis itu mengandung banyak masalah dan mengunduh dan yang lebih memalukan, mereka selalu mengeluarkan peta basinya Navnet.

Apakah software seperti Sygic, GeoNet/CityGuide, dll tidak pernah melamar peta Navnet? Selalu, permasalahannya adalah mahar yang tidak pernah mencapai kata sepakat! Mahar Navnet itu adalah berikan compilernya sehingga setiap rilis peta Navnet, Navnet yang melakukan compile bukan memberikan source peta Navnet kepada para pelamar untuk dicompile yang sama saja artinya memberikan source peta NKRI kepada mereka! Ini tentu saja akan melukai perasaan para kontributor yang telah memberikan kontribusinya secara gratis dimana mereka melakukannya dengan biaya. Wahai para "pengamat"! Kemana hati nurani kalian?! (Kontribusi kagak, koar-koar doang digedein volumenya mirip "TOA" rusak)

Terus, masalahnya apa sih? Kosmetik peta? Member peta Navnet banyak yang mumpuni menggarap skin-skin software GPS. Silahkan cari di web ini. Icon/logo POI sudah dibuatkan yang menampilkan wajah Indonesia. Banyak software GPS yang tidak bisa menampilkan ini! Elevated Junction, peta Navnet sudah support. Silahkan dinikmati pada Navitel. Perlu JCV? Memangnya tidak pernah tahu kalau JCV peta Navnet ada di software K-Nav dan Polnav? Lane Assist? 7Ways sudah beberapa periode menampilkan Lane-Assist ala Navnet. Ada yang sudah menikmati atau komplen? 3D Building, apakah Navnet tidak siap? Coba baca postingan saya tentang hal ini. Bukannya peta Navnet yang tidak siap, akan tetapi software yang mau bekerja sama dengan Navnet yang belum siap. IGo yang katanya mau menggunakan Lane-Assist dan 3D Building versi Navnet, sampai sekarang tidak ada kabarnya lagi (pernah 1x dirilis tapi tidak berhasil tampil). Dan masih banyak para software GPS provider yang hanya mengklaim sedang uji-coba peta NavNet, tapi tidak pernah dirilis petanya. Maksudnya apa, sih? Silahkan diamati provider-provider GPS yang petanya selalu terlambat beberapa hari/minggu dari rilis peta Navnet yang sesungguhnya. Ada apa diantara mereka hingga kadang keterlambatannya hingga peta Navnet sudah rilis versi yang lebih baru sehingga bisa dikatakan peta basi!

Yang terpenting adalah, mari kita lengkapi dan perbaiki petanya terlebih dulu. Saya yang sering blusukan ke berbagai pelosok negeri lebih sering menikmati peta Navnet yang kosong dari pada yang sudah lengkap. Namun semuanya Insya Allah akan tercantum pada rilis peta Navnet berikutnya meskipun saya tahu, saya belum tentu akan menikmatinya lagi. Biarlah saudara saya sebangsa dan setanah-air yang akan menikmatinya. Jika perkembangan peta Navnet hanya diberikan pada pundak MapDev, tentu saja akan terasa lambat.

Jadi, kepada para "pengamat", silahkan temukan kekurangan peta Navnet dari segi kualitas (POI/Polyline yang bolong), lalu kontribusikan/infokan kepada MapDev terkait untuk disempurnakan bukan cuma teriak Peta Navnet bagus di Jawa doang, diluar Jawa.....

Kalau ada yang posting: "saya mau berkontribusi untuk peta Navnet tapi tidak tahu caranya...."

Anda boleh mengaku newbie dalam hal per-GPS-an selamanya. Tapi anda bukanlah newbie selamanya dibidang internet, kan?

Jadi, hentikan upaya pencitraan. Berbuatlah yang sesungguhnya. Jangan bangga hanya jadi "pengamat", silahkan turun jadi "pemain" ikut blusukan (minimal dari lingkungan terdekat masing-masing). Toh, mau lengkap atau akurat, peta Navnet sudah diakui dunia koq! Lihat saja link-link pada web pemetaan Internasional yang ada www.navigasi.net nya.

M E R D E K A ! ! !



Berhubung peta Navnet masih kosong, terpaksa menggunakan Helikopter untuk mencapainya =))


Anda diharuskan login terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan.
navigasi.net 2003 - 2026