|
harseven,
(GMT) 13:26:09 Sabtu, 21 Juli 2012)
| |
Mumpung membahas jembatan, setuju banget jembatan masuk dlm POI sesuai di MapSource juga ada gambar POI khusus jembatan.
Saya pernah rerouting di Jambi sampai beda jarak tempuh lebih 2 kali lipat seharusnya 350 km menjadi 750 km gara² ada jembatan rusak tertabrak truk tronton pengangkut batubara 
|
|
Iftiron Y. Trisnanto,
(GMT) 09:09:27 Minggu, 22 Juli 2012)
| |
setahu saya yg menentukan Routing itu Polyline (Road) bukan Point (POI),
jadi kalau ada jembatan jembatan putus yg diedit Polyline bukan menambahkan POI jembatan.
CMIIW (Correct Me If Iftiron Wrong)
|
|
Isra,
(GMT) 18:05:13 Minggu, 22 Juli 2012)
| |
Om Mashari, menurut saya untuk POI jembatan akan lebih baik jika dibuatkan tersendiri (file GPX pada garmin atau SpeedCam pada Navitel) seperti pintu kereta dan lampu merah yang sudah dilengkapi dengan alarm/alert. Hal tersebut mengingat adanya bahanya jumping jika kecepatan kendaraan tidak dikurangi.
Jadi silahkan aja om uplod mungkin ada yang bisa bantu buatka file dimaksud.
|
|
LatLon,
(GMT) 19:04:50 Minggu, 22 Juli 2012)
| |
Pada beberapa daerah yang pernah ane survey, pencatuman POI jembatan telah dilakukan. Jika kebetulan nama jembatan yang tertulis pada prasastinya dapat ane baca, maka POI yang dicantumkan lengkap dengan nama Jembatannya. Silahkan amati wilayah Jambi khususnya Muara Bungo dsk termasuk Rimbo Bujang, Muara Tebo, Bangko, Kab. Merangin & Kab. Sarolangun. Kemudian Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara. Propinsi Sulawesi Tengah di sekitar Toli-toli. Sumatera Barat di sekitar Danau Kembar. Dan Terakhir di sekitaran Banyuwangi.
Di dalam kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, pencatuman POI Jembatan cenderung tidak efektif. Namun di sepanjang jalan Lintas (Highway, Arterial dan Collector Road) sepanjang pengamatan ane, kondisi jembatan membuat jalan sedikit menyempit yang tentu saja cukup membahayakan dalam mengemudi bagi driver yang baru pertama kali melintas di area tsb (terutama malam hari). Belum lagi mitos bagi sebagian pengendara yg hoby membunyikan klakson atau menyalakan lampu dim saat sebelum melintas jembatan . Ini bisa jadi alasan utama pencatuman POI Jembatan. Pada beberapa lokasi ada jembatan menyempit yang berada di balik tikungan tajam yang tentu saja sangat berbahaya. Belum lagi arsitektur jembatan yang naik seperti yang Oom Isra sebutkan di atas.
Alasan lain, POI Jembatan yang lengkapi dengan nama jembatan di mana sungai di bawahnya akan sangat membantu dalam penamaan polygon/polyline sungai di peta NavNet.
Masalah jembatan putus, seperti Mas Jastin ungkapan di atas, memang lebih kepada Polyline sebagai dasar Autorouting di perangkat GPS. Tapi peta NavNet tidak khusus disediakan untuk GPS saja, kan? Silahkan diperkaya kontent dari peta NavNet dengan informasi yang mungkin saja berguna kelak pagi penikmatnya.
Jadi? Oom Mashari, kapan POI Jembatannya akan dishare di sini? 
|
|
Mashari,
(GMT) 16:50:50 Senin, 23 Juli 2012)
| |
Mungkin di peta edisi mendatang om Latlon.. kebetulan saat ini lagi ada survai kondisi jembatan 12 kecamatan dari 24 kecamatan yang ada di Kab. Pasuruan. Memang pada peta tidak semua sungai ter-cover baik itu dari Peta Bakosurtanal maupun dari TOPDAM (format shp) yang ada di kantor.
|
|
muh ario,
(GMT) 21:56:55 Senin, 23 Juli 2012)
| |
rada oot : hehehehe masalah ""Belum lagi mitos bagi sebagian pengendara yg hoby membunyikan klakson atau menyalakan lampu dim saat sebelum melintas jembatan"" , terpaksa beberapa point tsb ane harus rada kasih salam om, hehehe agak "rame" masalahnya 
|
|
Isra,
(GMT) 12:32:48 Selasa, 24 Juli 2012)
| |
Pengalaman bersepeda motor Jakarta-Malang dan Malang-Merak termasuk Bali-Malang.. Saat akan leawat jembatan bukan lampu atau klakson yang dinyalain tapi pegang setir kuat2, kalau jumpingnya parah ga sampe gelundung 
|
|
muh ario,
(GMT) 18:01:28 Selasa, 24 Juli 2012)
| |
hahahahaha....dan itu jembatan jumping sepertinya hannya ada di seluruh area prpopinsi jateng plus di tol padalarang cileunyi
*heran...mereka knp ga ngeratain tuh jalan O_o
|