Login

 

 
 

Artikel: Museum - Ullen Sentalu

 

 artikelgalerilokasiforum

 


[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Patung wanita Jawa dengan dua anak kecil.

Telah dilihat: 18607x

Penulis

:

   Ninuk.A

Referensi

:

-

 

Lokasi

:

Hargobinangun;Pakem;Sleman

Koordinat GPS

:

S7.597140 - E110.424170

Ketinggian

:

889 m

Fotografer

:

Ninuk Asavasangsidhi

 

 

 

 

 

Tanggapan: 0 

 

 

Galeri: 9 

 



[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Jalan masuk menuju bangunan Guwo Selo Giri
Museum yang sangat kental dengan aura wanita. Itu adalah kesan yang saya dapatkan ketika saya mengunjungi museum yang berada di timur Kali Boyong, Kaliurang. Mungkin karena museum ini seperti ingin menunjukkan jati diri wanita-wanita Keraton yang selama ini belum banyak diketahui orang dan menjadi misteri bagi sebagian yang lain. Tidak banyak orang mengetahui keberadaannya, bahkan bagi warga Yogyakarta sekalipun, walaupun resmi-nya museum ini sudah dibuka dari tahun 1997 oleh KGPAA Paku Alam VIII yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DIY.

Museum yang namanya merupakan singkatan dari “Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku” yang artinya pelita kehidupan sejati bagi jalan hidup manusia ini dibangun dilahan yang sejuk dan indah diantara rimbunnya pepohonan di Kaliurang yang disebut Taman Kaswargan (Taman Surga). Pembangunannya yang menggunakan batu gunung, memakan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya benar-benar selesai dan diresmikan di tahun 1997.


[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Patung Ganesha di jalan keluar

Tiket masuk-nya adalah Rp 20.000,- untuk wisatawan domestik, Rp 10.000,- untuk mahasiswa dan Rp 36.000,- untuk wisatawan asing. Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu dari jam 09.00 – 16.00 dan hanya tutup dihari Senin. Dengan total tenaga pemandu sekitar 3 orang, pengunjung tidak diperbolehkan memasuki areal museum tanpa didampingi pemandu karena selain tidak ada orang yang akan menjelaskan kepada anda mengenai barang-barang yang dipamerkan ada kemungkinan anda akan tersesat J Disarankan untuk datang setidaknya berdua, karena apabila anda datang seorang diri dan tidak ada rombongan lain yang masuk bersamaan dengan anda, maka anda harus membayar dobel agar bisa didampingi pemandu. Kalau anda datang dihari libur, usahakan datang lebih awal agar anda tidak usah mengantri untuk bisa masuk ke museum karena terbatasnya jumlah pemandu.

Kalau anda memahami sedikit sejarah Kerajaan Mataram atau Keraton-keraton di Yogyakarta dan Solo mungkin anda akan menemukan keasyikan tersendiri ketika mendengarkan penjelasan pemandu. Barang-barang yang dipamerkan dalam museum ini merupakan kontribusi dari puteri-puteri Keraton Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Beberapa lukisan merupakan hasil karya pelukis dari ISI Yogyakarta yang melukisnya dari foto asli, namun ada pula yang merupakan kontribusi langsung Keraton.

Museum Ullen Sentalu memiliki total 7 ruangan  termasuk pintu masuk (Entrance), Guwo Selo Giri dan 5 ruangan yang terdapat dalam Kampung Kambang. Setelah melewati pintu masuk dan melewati jalan setapak yang rindang, pemandu akan membawa anda ke Guwo Selo Giri yang artinya Gua berdinding batu gunung (yang diambil dari Gn. Merapi). Dalam ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong ini anda bisa melihat beberapa foto kota Yogyakarta tempo doeloe dan beberapa foto penari-penari kraton yang sedang beraksi. Jangan salah, walaupun ada karakter wanita, tidak satupun dari penari-penari dalam foto lama itu adalah wanita, karena pada jaman dahulu wanita tidak diperkenankan menari untuk umum. Jadi untuk menggantikan perannya adalah pemuda yang berbadan ramping dan luwes seperti layaknya puteri keraton.

[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Beukenhof Restaurant
Diruangan ini pula kita seperti mulai diperkenalkan dengan beberapa karakter putri keraton yang menonjol, seperti BRAy. Partini Djayadiningrat (nenek dari sutradara video klip Dimas Djayadiningrat) yang mengarang buku “Ande-Ande Lumut” dan diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka dengan nama samaran Antipurbani.

Diruangan ini juga kita bisa melihat beberapa foto hasil jepretan tukang foto keluarga keraton pada masa Sultan HB VII yang bernama Kasian Cephas. Beberapa fotonya menggambarkan wanita dengan pose yang dianggap berani pada masa itu dianggap berani, salah satu foto yang berjudul “Denok”, menggambarkan wanita kalangan rakyat biasa berpose diatas dipan sederhana dengan kain yang menutupi bagian dada sampai ke lutut saja. Dianggap pose yang berani karena pada jaman dahulu wanita dilarang keras menaikkan kain melebihi 3 cm dari mata kaki-nya.

Selain itu ada pula wanita keraton yang pada jaman itu sudah mahir mendesain pakaian dan aksesoris yaitu Retno Puwoso, istri dari Paku Alam VII yang merupakan putri dari Paku Buwono X. Dalam salah satu lukisan digambarkan Retno Puwoso mengenakan baju kebaya dan kipas bulu yang dikalungkan dileher sampai menjuntai sampai ke mata kaki dimana bentuk kipas yang ‘tidak lazim’ itu di-desain sendiri olehnya. Lukisan lain menunjukkan potret diri Retno Puwoso beserta suaminya yang pada saat itu sudah memakai ‘dasi’ yang dikenakan dengan baju kebesarannya. Lagi-lagi dasi tersebut merupakan desainnya sendiri.
Dari ruangan ini pula kita akan diajak untuk memperhatikan bahwa tidak ada satu wanita keraton-pun yang ada dalam lukisan mengenakan cincin dijari tengah. Hal ini terkait dengan filosofi lima jari manusia dan peruntukannya sehingga jari tengah tidak diperkenankan dilekati apapun.


[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Bale Nitik Rengganis, souvenir shop

Di ruangan ini kita melihat foto diri Pakubuwono X beserta permaisuri yang merupakan putri dari Sultan Yogyakarta. Sesungguhnya PB X sudah memiliki permaisuri dan puluhan selir namun karena tidak memiliki anak dari permaisuri-nya maka beliau mengambil permaisuri lagi ditahun 1915. Dijaman pemerintahan PB X kota Solo diceritakan mencapai puncak kejayaan, hal ini ditandai dengan dibangunnya banyak pesanggrahan (Tegalgondo, Pengging, Banyubiru dan Ampel) atau Pasar Gede Harjonagoro.

Setelah dari Guwo Selo Giri kita akan dibawa ke Kampung Kambang yang terdiri dari beberapa ruangan yang dibangun diatas kolam besar, perpindahan dari satu ruangan ke ruangan lain memberi kesan kita sedang berjalan diatas permukaan air.
Ruang pertama dari Kampung Kambang adalah Balai Sekar Kedaton yang dipersembahkan untuk GRAj. Koes Sapariyam yang lebih akrab disapa Tineke. Dahulu Tineke sempat memiliki kisah cinta yang tidak direstui dan ruangan ini menjadi saksi bisu betapa kawan-kawan Tineke selalu memberikan dukungan kepadanya melalui surat-surat yang pernah dikirimkan dalam kurun waktu 1939-1947. Seluruh surat itu masih dalam kondisi yang baik sehingga anda tidak akan menemui kesulitan untuk membacanya selain sudah ada salinan dan terjemahan ke beberapa bahasa. Umumnya semua surat dilampiri dengan foto sipengirim dan isi surat cenderung ke bentuk puisi.


[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Beukenhof Restaurant

Ruang berikutnya dari Kampung Kambang adalah Ruang Paes Ageng Yogyakarta yang berisi mengenai lukisan-lukisan yang menggambarkan pengantin dari Kasultanan Ngayogyakarta lengkap dengan aksesori pendukung yang menunjukkan kemegahan dari prosesi pernikahan itu sendiri. Selain menikmati beberapa lukisan, pemandu akan menerangkan kepada anda filosofi dari aksesori yang dikenakan oleh pengantin wanita, dari mulai hiasan kepala sampai kepada aksesori lainnya. Lagi-lagi semuanya sarat dengan filosofi Jawa, seperti jumlah bunga hiasan dikepala yang berjumlah 5 sesuai dengan Rukun Islam, bunga melati yang digantungkan dipinggang sebagai tanda kesuburan dan cepat memiliki keturunan dan lain-lain.

Ruang ketiga di Kampung Kambang ini adalah Ruang Vorstendlanden Batik yang memamerkan koleksi batik dari Kasultanan Yogyakarta (pada masa Sultan HB VII-IX) dan Surakarta (pada masa PB X-XII). Dahulu kain batik tidak diperkenankan untuk dipakai rakyat biasa, tetapi pada masa Sultan HB IX beliau memperbolehkan rakyat biasa ikut mengenakan batik. Pemandu juga akan memberitahukan kepada kita makna filosofis dibalik motif-motif batik yang dikenal sekarang mengingat pada jaman dahulu pembuat batik harus berpuasa dan menunggu wangsit sebelum dapat menemukan motif dan mulai membatik. Beberapa koleksi batik yang dipamerkan misalnya batik motif Grinsing Mino yang konon bisa digunakan untuk menolak ilmu hitam, batik Sido Luhur, Sido Mulyo, Sido Drajad dan Sido Asih yang menunjukkan kesetiaan seorang istri.
Selain itu anda akan diberitahu oleh pemandu untuk tidak mengenakan batik motif Parang untuk acara lamaran, pertunangan atau pernikahan karena Parang adalah jenis batik yang umumnya digunakan untuk peperangan, sehingga mengenakannya diacara pernikahan konon akan membuat pernikahan dipenuhi dengan pertengkaran dan permusuhan.

[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Lorong masuk (entrance) yang dipenuhi pepohonan
Ada lagi batik motif Truntum yang tidak boleh dikenakan untuk menutup tubuh jenazah karena konon apalagi batik motif Truntum tetap dikenakan maka jenazah akan terus menghantui.

Ruang keempat adalah Ruang Batik Pesisiran, yaitu koleksi batik yang berasal dari daerah pantai Utara Jawa. Batik-batik diruangan ini umumnya sangat indah dan berwarna lebih cerah walaupun pada saat itu tidak terlalu diminati karena dianggap tidak ada nilai filosofi-nya. Diruangan ini pula kita bisa melihat kebaya bordir jaman dahulu yang proses pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan karena mesin bordir-nya sangat kecil dan kuno. Walaupun hasilnya cukup indah tetapi kebaya bordir tidak terlalu diminati pada jaman dahulu karena dianggap tidak sarat dengan nilai filosofi. Kebaya jenis ini umumnya dipergunakan oleh etnis campuran pada masa Sultan HB VII (sekitar tahun 1870-an).

Ruang kelima atau ruang terakhir di Kampung Kambang adalah Ruang Putri Dambaan, yaitu ruangan yang didedikasikan untuk mengenai GRAy Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Surjosoejarso atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul. Beliau adalah putri dari HRH Mangkunegoro VIII dan GKR Timur Mursudariyah. Yang membuatnya sangat istimewa karena Gusti Nurul ini berparas cantik, memiliki hobi berkuda, mahir menari, bermain tenis dan berenang. Putri yang pernah dipinang oleh Presiden Soekarno dan Sultan HB IX ini menolak poligami dan akhirnya memilih untuk menikah dengan seorang tentara ketika usianya menginjak angka 30 tahun. Ruangan ini berisi koleksi foto-foto Gusti Nurul dari ketika beliau masih bayi hingga dewasa. Ada satu foto menggambarkan Gusti Nurul sedang menari di pernikahan Putri Juliana yang dilakukan secara ‘teleconference’, yaitu musik gamelan dimainkan di Solo sedangkan Gusti Nurul mendengarkan alunan gamelan melalui telepon dan menari dihadapan tamu undangan pernikahan. Karena sambungan telepon pada masa itu masih belum sebaik sekarang maka sang Ibu masih memberikan aba-aba secara langsung berupa ketukan-ketukan. Ruangan ini diresmikan sendiri oleh Gusti Nurul pada hari ulang tahunnya yang ke 81.


[navigasi.net] Museum - Ullen Sentalu
Pintu masuk museum

Setelah dari Ruang Putri Dambaan anda akan disuguhi Kusmayana Drink ramuan tradisional salah satu puteri keraton yang dipercaya dapat membuat anda awet muda. Ramuan ini terbuat dari campuran jahe, kayu manis, gula jawa, garam dan daun pandan.
Dari Ruang Putri Dambaan, tour anda di museum Ullen Sentalu belum sepenuhnya berakhir, karena anda masih bisa berkeliling menikmati taman yang asri dan artistik. Ada baiknya anda membaca rambu-rambu yang disediakan agar anda tidak tersesat.
Ada lagi Galeri Djagad Akademik dimana secara berkala diadakan pameran-pameran lukisan yang dikoordinasi oleh “Ulating Blencong” Foundation.
Kalau anda berkeliling disekitar taman maka anda akan menemui Beukenhof Restaurant yang didesain dengan arsitek jaman kolonial. Sebagai pelengkap museum disediakan pula toko souvenir atau Artshop (Bale Nitik Rengganis) yang menjual batik dan kerajinan lainnya.

Museum Ullen Sentalu seperti mesin waktu yang membawa kita ke masa lampau untuk disegarkan kembali tentang sejarah kejayaan Keraton-keraton di Yogyakarta dan Solo. Selain itu karena sarat dengan nilai filosofis pengunjung seperti diajak untuk belajar mengenai filsafat praktis kebudayaan Jawa yang disajikan dengan sangat menarik oleh pemandu.

Sangat disayangkan pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret didalam ruangan padahal dengan saratnya nilai filosofis dan sejarah pada barang-barang yang dipamerkan alangkah baiknya pengambilan foto juga diperkenankan (walaupun mungkin dibatasi pada barang-barang tertentu). Jika tidak agak sulit nampaknya apabila kita ingin bertutur mengenai isi dari museum tanpa ada dukungan gambar..
navigasi.net 2003 - 2014