Jalan jalan kali ini saya berkesempatan mengunjungi Monumen
Jalesveva Jayamahe atau yang biasa disebut MONJAYA S07.19586
E112.73959
Sebenarnya sudah dua kali saya masuk ke daerah tertutup ini,
pertama waktu ada acara dengan salah satu televisi swasta, waktu
itu malam hari dan kesempatan untuk mengambil foto sangatlah sulit,
dikarenakan daerah itu merupakan basis TNI-AL, dan juga larangan
memotret diberlakukan. Tapi kali ini di acara Jalan Jalan Karimun
2004 saya berkempatan masuk kembali untuk melihat dari dekat
monumen tersebut. Wah gak pernah bosen nih untuk ngeliatin dari
dekat lagi kegagahan monumen ini.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Lain-lain - Jalesveva Jayamahe | |  | |  |
Sebelum dapat mencapai monumen ini, kita harus melalui 2 pintu
gerbang penjagaan yang ketat, kalo bukan ada acara atau hari biasa,
wah saya gak tau deh apa bisa orang umum masuk kesana, karena ini
merupakan daerah terlarang untuk orang umum masuk.
Begitu lepas dari pintu penjagaan pertama kita disambut dengan
beberapa komplek pendidikan dan perumahan TNI-AL, kurang lebih 1 km
kita akan menemui kembali pintu penjagaan kedua (terakhir), nah
disini semua kendaraan tidak boleh masuk kecuali ada ijin,
kebetulan waktu itu kita dapat ijin untuk memasuki daerah tersebut,
untuk diajak sightseeing isi pangkalan ini.
Pertama masuk kita akan melihat beberapa kapal perang yang
bersandar didermaga, mulai dari jenis korevet sampai LST, wah
pokonya seru banget, lepas itu kita diajak mengelilingi dermaga
tempat bersandarnya kapal hasil sitaan S07.19447 E112.74929
dan kemudian, sampailah kita didepan monumen yang punya tinggi 60,6
meter, terletak diujung dermaga, WOW takjub banget, ternyata saya
diberi kesempatan lagi untuk melihat dari dekat monumen ini, aji
mumpung saya explore dong untuk foto dan cari tau tentang monumen
ini, kebetulan waktu itu diperbolehkan.
Disebut Monumen Jaleveva Jayamahe karena diambil dari semboyan
TNI AL artinya“di laut kita jaya”. Monumen ini
tingginya 60 meter, terdiri dari gedung beton bundar empat lantai
30 meter yang dijadikan tumpuan patung tembaga setinggi 30 meter.
Monumen yang berupa patung seorang Kolonel TNI Angkatan Laut dengan
pakaian dinas militer, berkacak pinggang dan memegang pedang
komando. Mata sang kolonel menatap ke laut luas. Pada lantai dasar
bangunan bundar itu ada sebuah gong yang dipajang, disebut Kyai
Tentrem, yang punya berat mungkin sekitar 2 ton lebih dengan
diameter 5 meter,gong ini dulunya dipake untuk peresmian monumen
ini, waktu masih jamannya pak Harto, wah udah lama yah ?
O.. ya, monumen ini katanya disebut-sebut tertinggi kedua di
dunia setelah Patung Liberty, yang punya tinggi lebih dari 75
meter, tapi kalo saya pikir monumen ini yang tertinggi didunia,
kenapa kok bisa begitu, kalo dibanding dengan kepala Patung
Liberty, Monjaya hanya beberapa meter lebih pendek. Tapi karena
tangan Liberty itu terangkat, jadi dia lebih tinggi dong, coba kalo
tangan tangan sang kolonel terangkat, apalagi pedangnya diacungkan
ke atas, wah bisa jadi tertinggi didunia, tapi posisi mengacungkan
pedang kayaknya gak bagus buat menimbulkan kesan wibawa.
Karena Cuma satu jam saya diberikan kesempatan ditempat ini,
pukul 11 siang rombongan JJK 2004 meluncur ke Nur Pasific, track
log bisa dilihat di tracklog JJK 2004 menuju Bromo.
Ok sampai disini dulu cerita tentang tempat wisata dikota
surabaya, next time tungguin cerita lainnya dari Surabaya.
|