Prolog
Terletak di sebelah timur kepulauan Sumbawa, 10 derajat lintang
selatan dan 119 - 124 derajat bujur timur. Merupakan kepulauan yang
unik dengan rangkaian pegunungan disepanjang garis tengahnya.
Sebagian besar orang (termasuk saya) mungkin tidak pernah berpikir
bahwa Flores mempunyai segudang objek wisata yang patut dibanggakan
selain Danau Kelimutu.
Hingga akhirnya kami berdua dan kitab Lonely Planet, kami nekad
untuk menjajagi tanah Flores, dimulai dari Maumere disebelah utara
hingga ke Labuan Bajo di ujung barat pulau Flores.
..........................................
Catatan
perjalanan:
Rabu, 16 July
2003
Kami berangkat dengan Pelita Air dari Cengkareng menuju Maumere
dengan transit 30 menit di Surabaya, dan 30 menit stop over di
Denpasar. Total penerbangan hanya 2 jam 15 menit. Jam 6 pagi kami
take off dari Cengkareng dan landed dengan selamat jam 11.30 WITA
di bandara Waioti Maumere. Lokasi pertama yang kami tuju adalah
Danau Kelimutu, the most spectacular sights in NTT - yang bisa juga
ditempuh dengan pesawat tujuan Ende dan perjalanan darat sejauh 52
km yg ditempuh selama +/- 2 jam karena jalan berliku-liku dan ada
beberapa jalan putus akibat gempa awal tahun.
Dari Maumere ke Kelimutu (kec Moni), melalui jalan yang
berliku-liku, kanan-kiri hutan, dan terkadang tepian laut, dan
sangat jarang berpapasan dengan bus. Maumere terletak di Kabupaten
Sikka, tempat kelahiran Frans Seda. Sedangkan Kelimutu terletak di
Kabupaten Ende. Perjalanan ditempuh selama 3 jam.
Tiba di Moni, sepanjang jalan menuju danau Kelimutu terdapat
beberapa penginapan dengan room rate rata-rata sekitar 40 ribu
hingga 75 ribu per malam. Kami menginap di Sao Ria Wisata, salah
satu penginapan yang direkomendasikan oleh Lonely Planet, ada
beberapa penginapan lainnya misalnya Hidayah, Regal Jaya, Nusa
Bunga dan Arwanti Homestay. Dan kebanyakan dari penginapan2 tsb
terisi penuh oleh tourist. Fasilitas tanpa AC, karena udara cukup
dingin seperti di puncak. Dan kamipun membaringkan badan, melepas
penat.
Jarak desa Kelimutu ke danau, sekitar 14 km - the winding road,
meskipun tidak terlalu menanjak, jalan hotmix mulus sekali! Untuk
naik menuju danau, disarankan bawa kendaraan pribadi ato naik Bus
Kayu ato tepatnya sebuah truk kayu yang dimodifikasi sedemikian
rupa lengkap dengan bangku-bangku kayu yang panjang, hanya saja,
tanpa pintu dan harus memanjat dari sisi kanan/kiri. Untuk jalan
turun, bisa saja jalan kaki, yang ditempuh sekitar 2.5 hingga 3
jam, tapi sangat disarankan, kalo mo jalan turun, dipastikan punya
waktu luang setelahnya. Soalnya kami termasuk 'korban kebodohan'
sok become a hardy soul..padahal waktu mefet!
Kamis, 17 July
2003
Perjalanan dg bus kayu makan waktu
1 jam, dan biasanya bus akan berangkat dini hari jam 4 untuk
mengejar sunrise. Sebelum tiba di kawasan danau, harus membayar
tiket masuk sebesar 5000 rupiah/orang dan mobil pribadi sekitar
10.000 (murah sekali!!!).
Dari parkiran, kami berjalan menuju jalan setapak terbuat dari
paving block, kanan kiri perdu lebat. Jangan lupa bawa jacket, krn
disamping suhunya dingin sekali, berjalan rapat dengan perdu bikin
baju basah! Berjalan menuju look out point selama 20-30 menit. Look
out point tempat melihat sunrise, dan bias memandang ke-3 danau
dengan leluasa. 15 menit terakhir menuju look out point, jalan udah
di semen, dengan anak-anak tangga, yang bikin saya sesak nafas!
Phew! Danau Kelimutu berada di ketinggian 1640 mdpl dengan suhu
antara 10-15 derajat.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Gunung/Kawah - Kelimutu | |  | |  |
Dan segala penat menguap seiring
dengan segaris cahaya yang merobek langit dengan cahaya
keemasannya. Sederet gumpalan awan hitam yang menghalangi cakrawala
seperti tak sanggup membendung pendar-pendar cahaya yang semakin
lama semakin terang. Morning has broken! Dan, seketika mata ini
serasa meloncat dari tempatnya ketika tertuju ke satu kolam raksasa
dengan warna hijau turquoise. Di sisi yang lebih jauh, tersembul
warna coklat (inilah danau yang dulunya pernah berwarna Merah
Maroon - kebayang ngga sih?).
Di sisi lain ada sebuah danau yang terpisah, letaknya persis di
sebelah look out point, berwarna hitam kelam. Danau ini 5 tahun
lalu berwarna hijau bercampur putih susu (warna apa yaaa?). Kalo
pengen tau, lihat di uang lima ribuan jaman sebelum yang baru - ada
gambar danau kelimutu. Warna danau yang terpisah, seperti
itulah...
Saya jadi teringat, satu sobekan puisi yang berusaha mengungkapan
keindahan danau kelimutu yang saya pun sampai detik ini ngga bisa
mendiskripsikan perasaan saya mengenai kelimutu. Sobekan puisi
itu:
Ketika Tuhan menciptakan dan
mewarnai bumi, di Kelimutu-lah, DIA mencuci kuasnya.
that's great!!!
Layaknya adat timur yang tak lepas
dari legenda, Kelimutu pun punya satu legenda. Sampai saat ini,
masyarakat Kelimutu percaya, bahwa Mae, seorang dewa yang bertugas
untuk mengatur kehidupan di alam baka. Roh-roh dari orang yang
meninggal, satu persatu akan bersemayam di danau berdasarkan amal
baktinya selama hidup.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Gunung/Kawah - Kelimutu | |  | |  |
Danau Arwah Muda-Mudi (Tiwu
Nua Muri Kooh Fai*) yang berwarna hijau turquoise, akan dihuni oleh
roh-roh orang yang meninggal di usia remaja, anak-anak dan bayi.
*Ajaibnya hanya Danau Muda-Mudi ini yang dikabarkan tidak pernah
berganti warna.
Danau Arwah Yang Ditenung (Tiwu Ata Polo*) yang sekarang berwarna
coklat, dihuni oleh roh-roh orang-orang yang dimasa hidupnya pernah
membunuh, mencuri, atau orang2 jahat lainnya.
Danau Arwah Orang Tua (Tiwu Ata mBupu*) berwarna putih susu
bercampur kehijauan, dihuni oleh roh-roh orang yang meninggal di
usia tua.
Perubahan-perubahan warna pada danau, disebabkan oleh
berubah-ubahnya endapan mineral yang terdapat di dasar danau.
Sekaligus, cuaca yang sangat tidak stabil. Kelimutu menyimpan daya
magis tersendiri yang bisa saya tangkap oleh my another sense (saya
ngga yakin saya punya the sixth sense..hehe).
Pengunjung bisa turun mendekati danau, hanya ditempat yang sudah
disediakan. Biasanya dipagari oleh pagar besi setinggi dada. Tapi,
kami sempat turun 'derailed' dari jalur yg sebenarnya, menuruni
lembah, dan kami tiba di bibir danau muda-mudi. Dibawah kami
menganga kolam raksasa itu (duh kalo inget, kaki gemeteran nih!).
Ada cerita, seandainya orang melempar batu ke dalam danau, maka
batu tersebut akan mental. Tapi terus terang saja, saya tidak
berani untuk mencobanya.
Sore itu, seiring dengan turunnya matahari ke peraduan, kami tiba
di kota Ende. Ada beberapa tempat yang kita kunjungi; Blue Stone
Beach, Situs Rumah Bekas Pembuangan Bung Karno, dan yang jelas,
BELANJA kain di Pasar Ikat.
Anyway, masih ada situs-situs wisata lain yang kami dikunjungi,
dikemas dan dibawa pulang untuk diceritakan kepada kalian
semua.
Happy Travelling !
Dennie n Tatuk
|