Membaca tulisan Pengindelan Merah di papan penunjuk wisata, sempat
membuat kening penulis berkerut, maklum baru kali ini mendengar
kosakata tersebut. Ditambah melihat bentuk bangunan pengindelan
yang hanya berupa sebuah bangunan persegi sederhana dengan ukuran
panjang +/- 20 meter kali lebar +/- 7 meter dan tinggi +/- 3 meter.
Pada bagian atapnya menyerupai bagian bentuk atap yang umum
terdapat pada bangunan perumahan. Sebuah bentuk bangunan yang amat
sederhana yang tentunya bukanlah digunakan sebagai tempat pemukiman
penduduk apalagi istana raja-raja. Terlebih ketika melongok kedalam
bangunan yang ternyata cukup gelap dengan lantai dasar yang
dipenuhi genangan air kotor dan beberapa ekor kelelawar yang
bergelantungan dibagian atapnya.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Budaya - Tasik Ardi + Pengindelan Bangunan Pengindelan Putih yang terletak ditengah sawah penduduk. Bentuk bagian atapnya berupa lengkungan setengah lingkaran | |  | |  |
Dari informasi yang diperoleh oleh penjaga museum kepurbakalaan
banten, pengindelan memiliki makna sebagai penyaringan air.
Terdapat tiga macam pengindelan di daerah Banten Lama, yakni:
Pengindelan Merah (S006.05086 - E106.14614) untung penyaringan air
tahap pertama, Pengindelan Putih (S006.04558 -
E106.15056) untuk tahap kedua yang tentunya lebih jernih air
yang dihasilkannya, sedangkan yang terakhir adalah Pengindelan Emas
(S006.04114 - E106.15443) dimana air yang keluar dari bangunan ini
nantinya akan dialirkan menuju tempat pemandian raja-raja didalam
istana Surosowan.
Air yang diperoleh, berasal dari danau/waduk Tasik Ardi
(tasik=danau, ardi=buatan) yang berjarak kurang lebih 2,5 km ke arah barat daya dari
Istana Surosowan. Ditengah danau Tasik Ardi terdapat pulau
berbentuk segiempat, yang dulunya digunakan sebagai tempat rekreasi
keluarga sultan. Di pulau ini juga ada bangunan dan kamar mandi,
yang sisa-sisanya masih bisa dilihat sampai sekarang.
Melalui pipa-pipa bawah tanah, air yang berasal dari Tasik Ardi
dialirkan ke Pengindelan Merah, Putih dan Emas untuk melalui
proses penjernihan dan pengendapan kotoran. Sayang sekali ketiga
pengindelan ini sudah tidak berfungsi lagi dengan baik, malah untuk
Pengindelan Emas bentuk bangunan sudah rusak separuhnya dengan
hanya menyisakan bahan bangunan dasarnya saja tanpa atap ditambah
dengan tanaman liar dan genangan air yang berwarna kehijauan ikut
menambah kesan tak terawat.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Budaya - Tasik Ardi + Pengindelan Bagian dalam dari bangunan Pengindelan Putih. Terlihat jelas tidak ada tiang besar pada bagian tengahnya seperti apa yang terdapat padsa pengindelan Merah | |  | |  |
Karena bentuk bangunan Pengindelan Emas yang sudah tidak utuh
lagi, dan jarak yang cukup jauh antara satu pengindelan dengan
lainnya, tidak terpikir oleh penulis bahwa disamping Pengindelan
Merah dan Putih masih ada satu pengindelan lagi. Untunglah petugas
museum kepurbakalan banten memberi tahu dan memberikan gambaran
akan dimana letak pengindelan terkhir(emas), sehingga penulis
berhasil menemukan dan mencatat lokasinya. Ketidak utuhan bangunan
Pengindelan Emas ini juga menimbulkan tanda tanya tentang bagaimana
bentuk atap dari Pengindelan Emas ini, apakah sama dengan
Pengindelan Merah ataukah Pengindelan Putih, ataukah memiliki
bentuk atap tersendiri yang berbeda ?
Ketika mencatat koordinat GPS ketiga lokasi bangunan tersebut,
penulis mereka-reka bahwa tentunya ketiga bangunan tersebut berada
dalam satu garis lurus dan ketika memplot hasil pencatatan ke peta
digital keluaran bakosurtanal terlihat jelas bahwa memang ketiganya
berada dalam satu garis lurus, menghubungkan pemandian tirta ardi
dengan pemandian yang ada dalam istana surosowan. Data
ketinggian untuk ketiga bangunan tersebut menunjukkan adanya beda
ketinggian yang semakin menurun dimulai dari Tasikardi dengan
ketinggian 4 meter, Pengindelan Merah 3 meter, Pengindelan Putih 2
meter, Pengindelan Emas 1 meter yang kemudian berakhir pada
pemandian istana surosowan dengan ketinggian < 1 meter. Tentunya
perbedaan ketinggian ini akan sangat memudahkan sekali dalam
mengalirkan air.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Budaya - Tasik Ardi + Pengindelan Bangunan Pengindelan Emas yang sudah tinggal separuhnya saja. Bagian atap sudah benar-benar hilang dan tidak diketahui bagaimana bentuk aslinya | |  | |  |
Dari kajian arkeologis* yang pernah dilakukan terhadap
ketiga pengindelan tersebut menerangkan bahwa:
"Kondisi banten lama yang terletak di pinggir pantai, memiliki
lingkungan tanah yang banyak menyerap air laut. Tidak ditatanya
perkotaan dengan baik, mengakibatkan kota menjadi becek dan
sungaipun selalu kotor. Kondisi perkotaan semacam itu bukan
merupakan pemukiman yang sehat. Sehingga berjangkitnya penyakit,
selalu bersifat epidemis menjadi wabah yang menular. Korban-korban
yang meninggal, tidak hanya menyerang rakyat biasa melainkan juga
diderita oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Benteng
Speelwijk. Karena bertambah ramainya arus lalu lintas, berjangkit
pula penyakit yang dibawa oleh kapal-kapal asing yang telah
melintasi samudera berbulan-bulan lamanya. Pada tahun-tahun
selanjutnya, dengan lingkungan kota pelabuhan yang pengap
dikelilingi tembok, wabah penyakit bukan hanya merusakkan daya
tahan tubuh penduduk namun tetapi juga melemahkan mental
mereka.
Pembangunan air melalui pipa-pipa yang dialirkan dari danau
buatan Tasik Ardi, merupakan satu cara untuk mengatasi lingkungan
pemukiman Kota Banten Lama yang 'kumuh'. Tetapi saluran air
itu hanya dikhususkan untuk sultan dan keluarga di Surosowan, tidak
menjangkau perkotaan secara keseluruhan."
Sebuah kajian yang cukup menjelaskan tentang asal-usul mengapa
dan dengan tujuan apa pengindelan tersebut dibangun, meskipun pada
bagian kalimat terakhir terdapat "sisi sedihnya".
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Budaya - Tasik Ardi + Pengindelan Tasik Ardi, dulunya merupakan tempat rekreasi Sultan beserta kerabatnya dan digunakan pula untuk menjamu tamu-tamu penting. | |  | |  |
Andaikan saja bangunan-bangunan tersebut direnovasi dan
difungsikan kembali seperti apa yang telah digunakan pada masa
lalu, tentunya akan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas
tentang bagaimana pada masa itu, air tersebut di jernihkan dan
seberapa jernih air yang dihasilkannya.
*sumber : Landasan Struktural
Perubahan Sosial Pada Masyarakat Banten Lama Akhir Abad ke-17:
Tinjauan Sosiologis - Eri Sudewo
|