Berkunjung ke objek wisata Api Alam Mrapen bukanlah hal yang sulit
dikarenakan objek wisata ini terletak dipinggir jalan raya
Purwodadi - Semarang. Alasan ini pulalah yang menyebabkan saya
menyempatkan diri untuk singgah sejenak saat mudik lebaran tahun
ini, sekedar untuk mendapat wariasi tipe objek wisata yang memang
jarang sekali ditemui.  | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Api Alam - Mrapen Kobaran api yang kecil | |  | |  |
Tiket masuk ditetapkan 500 perak suatu harga yang menurut saya
pribadi teramat murah. Mobil pun segera parkir di sebuah area
terbuka yang cukup luas untuk menampung kendaraan roda dua dan
empat. Keluar dari mobil tentu hal yang pertama kali dicari adalah
dimana lokasi keberadaan api mrapen. Sekilas mata memandang tidak
ditemukan sama sekali kobaran api di area ini, dan ketika
ditanyakan kepada salah seorang pengunjung, ia menunjuk pada
setumpuk batu berwarna putih yang tersusun rapi membentuk
kerucut.
"Mana apinya ?" ujar saya ketika melihat bagian atas batu yang
sedikit berongga namun tak nampak sedikitpun kobaran api. Seorang
perempuan tua menghampiri dengan setumpukan daun kering dalam
genggaman tangganya. Daun tersebut dengan hati-hati diletakkan di
dalam rongga dan tak lupa meniupnya. Sepintas sebuah jilatan api
nampak membakar daun-daun kering tersebut. Rupanya api yang ada
terlalu kecil untuk langsung dilihat, perlu ada "bahan bakar"
terlebih dahulu agar tampak lebih berkobar :(
Dari sebuah koran online diperoleh info bahwa kecilnya kobaran
Api Alam Mrapen disebabkan karena banyak penduduk sekitar
menyalurkan api abadi tersebut untuk kepentingan rumah tangga.
Warga mengambil api tersebut dengan cara mengebor tanah dan
memasang pipa. Gas api abadi itu kemudian dialirkan ke rumah untuk
memasak. Pemda setempat merasa kesulitan menertibkan pengambilan
api abadi tersebut. Hal itu karena lokasinya bukan tanah milik
pemda kabupaten melainkan milik perorangan. Pemda Kabupaten
Grobogan pernah berupaya membeli lahan tersebut, namun itu urung
dilakukan, diperkirakan karena belum ada kesepakatan harga.
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Api Alam - Mrapen batu Bobot yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar diletakkan didalm ruangan tertutup dan dikunci dari luar | |  | |  |
Tak jauh dari lokasi berkobar api terdapat sebuah batu bobot,
yang menurut penduduk setempat diyakini akan mampu mengabulkan
semua permintaan siapa saja yang bisa mengangkat batu tersebut
sambil duduk. batu itu sendiri terletak dalam sebuah cungkup dan
terkunci rapat. Dari luar kita masih bisa melihat batu tersebut
dari jendela kaca yang tersedia. Waktu saya mencoba melihat
kedalam, nampak sekali batu tersebut dikeramatkan, terlihat dengan
adanya taburan bunga setaman pada batu tersebut dan bau
wangi-wangian yang masih perlahan tercium dari luar pintu.
Disamping batu bobot, di lokasi wisata Api Abadi Mrapen juga
terdapat kolam kecil dengan air berwarna hijau beserta gelegak air
di tengahnya. Meskipun air tersebut tampak seperti mendidih,
namun tidaklah panas karena gelembung-gelembung udara tersebut
berasal dari gas yang berada dalam tanah. Letupan
gas/gelembung-gelembung air itu akan menyala bila terkena
api, mungkin gas tersebut adalah merupakan gas yang sama dengan
yang ada pada Api Alam Mrapen. Dari hasil penelitian di
laboratorium terbukti air Sendang Dudo mengandung banyak mineral
mulai dari kalsium, besi hingga magnesium. Karena kaya kandungan
mineral air Sendang Dudo kerap digunakan untuk mengobati berbagai
penyakit di kulit seperti gatal-gatal atau eksim.
.......
 | |  | |  | | |
| | | [navigasi.net] Api Alam - Mrapen Sendang Dudo dengan gelembung air ditengahnya | |  | |  | Api Alam Mrapen pernah digunakan untuk menyalakan obor dalam
kegiatan pesta olahraga international (Ganefo I) pada tanggal 1
November 1963 di Jakarta demikian pula untuk Pekan Olahraga
Nasional (PON) X tahun 1989, dan PON XIV tahun 1996. Selain untuk
kegiatan penyalaan api olahraga juga digunakan pula untuk upacara
hari raya waisak.
Legenda,..
Menurut legenda, konon api abadi itu muncul setelah Sunan
Kalijaga menancapkan tongkatnya ke dalam tanah. Saat itu, Sunan
Kalijaga bersama pengikutnya sedang melakukan perjalanan panjang
dan menginap di Desa Mrapen. Malam itu, banyak pengikutnya merasa
kedinginan. Karena merasa kasihan,
pemuka agama Islam itu kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah.
Ketika tongkat dicabut, keluar api yang ternyata tak pernah padam.
Karena berasal dari kata prapen yang berarti perapian, api abadi
itu disebut mrapen.
Dilain hari Sunan
Kalijaga minta dibuatkan sebilah keris pusaka pada Empu Supa yang
tinggal tak jauh dari Sendang Dudo. Sebagai
bahannya Sang Wali menyerahkan butiran besi sebesar biji kemiri.
Melihat bahan sekecil itu Empu Supa tertawa geli karena mana
mungkin besi sekecil itu bisa untuk dijadikan sebilah keris pusaka.
Rupanya Empu Supa lupa bahwa yang dihadapi adalah Seorang Sunan
Kalijaga yang sakti. Besi kecil yang dibakar diatas api alam mrapen
untuk ditempa itu ternyata mengembang makin lama makin besar. Empu
Supa cepat-cepat membawa besi membara itu ke Sendang Dudo untuk
dicelupkan ke dalamnya agar dingin.
Begitu besi panas dimasukkan ke sendang
air Sendang Dudo yang tadinya tanang dan jernih tiba-tiba
menggelepak seperti mendidih dan berubah menjadi keruh. Entah
apakah itu karena panasnya besi yang membara itu atau karena
ampuhnya calon keris pusaka yang kelak setelah jadi bernama Kiai
Sengkelat tersebut.
Sejak peristiwa itu air Sendang Dudo terus
bergolak seperti mendidih kendati tetap dingin.
|